Sat. Jan 31st, 2026

Saya baru saja menonton film Krays: Code of Silence (2021). Disutradarai Ben Mole, dibintangi Stephen Moyer sebagai detektif dan Ronan Summers yang bermain peran ganda sebagai si kembar Kray. Film ini mengangkat kisah nyata dari London tahun 1960-an. Banyak adegan di gudang kosong. Anggarannya terbatas. Kualitas gambarnya biasa saja. Tapi ceritanya membekas.

Film ini menceritakan Detektif Leonard “Nipper” Read yang mengejar si kembar Kray, dua penjahat paling ditakuti di London tahun 1960-an. Ronnie dan Reggie Kray yang menguasai kawasan East End dengan kekerasan. Mereka punya jaringan sampai ke polisi, politisi, dan hakim. Para saksi terlalu takut bicara. Bukti-bukti bahkan hilang. Penyelidikan macet.

Nipper Read masuk ke situasi ini. Dia tahu sistemnya korup. Dia tahu rekan-rekannya menerima suap. Dia tahu kariernya bisa hancur. Dia tetap menyelidiki. Perlahan. Sistematis. Dia menemui saksi satu per satu, membangun kepercayaan, mengumpulkan bukti. Butuh bertahun-tahun. Akhirnya di tahun 1968, si kembar Kray ditangkap dan dipenjara seumur hidup.

Film ini tidak terlalu memuji Nipper sebagai pahlawan. Dia bahkan digambarkan sebagai pria biasa yang memilih melakukan pekerjaannya dengan benar. Tidak ada drama berlebihan. Tidak ada baku tembak. Hanya kegigihan yang tenang.

Menonton film ini, saya teringat kepolisian Indonesia. Sesungguhnya, polisi jujur di negara kita ada, namun sering terpinggirkan. Sistem tidak mendukung mereka. Ketika seorang polisi menolak suap, dia dianggap menyusahkan. Ketika dia menyelidiki kasus yang menyentuh orang besar, dia dimutasi. Karier polisi bergantung pada koneksi, bukan prestasi menangkap penjahat.

Salah satu polisi baik kita adalah Hoegeng Iman Santoso. Dia menjadi Kepala Kepolisian Indonesia pada 1968, tahun yang sama dengan penangkapan si kembar Kray. Hoegeng terkenal karena tidak bisa disuap. Pedagang cendana menawarkan meja mahal, dia menolak. Pejabat tinggi memberi hadiah, dia kembalikan. Dia membersihkan kepolisian dari dalam. Dia memecat polisi korup meskipun mereka punya koneksi kuat. Kariernya berakhir lebih cepat dari yang seharusnya, dipaksa pensiun karena tidak mau kompromi dengan kepentingan politik.

Kisah Hoegeng dan Nipper Read memiliki kesamaan. Keduanya bekerja dalam sistem korup. Keduanya menghadapi tekanan dari dalam dan luar. Keduanya membayar harga untuk pilihan mereka.

Jujur itu butuh nyali. Nipper dan timnya harus mengasingkan diri bekerja di sebuah gudang agar tidak tertular korupsi. Hoegeng harus rela hidup pas-pasan dan disingkirkan dari jabatan demi prinsipnya. Menjadi lurus di lingkungan yang bengkok itu berat.

Krays: Code of Silence adalah film kecil dengan banyak keterbatasan. Namun film ini membuktikan satu hal: kerja keras yang tersistematis membuahkan hasil. Perubahan tidak datang dari momen heroik, melainkan dari pilihan-pilihan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Indonesia punya banyak polisi baik. Yang mereka butuhkan adalah sistem yang membuat kejujuran menjadi pilihan masuk akal—bukan pengorbanan karier. Karena hormat rakyat itu tidak bisa dibeli pakai baliho; ia cuma bisa ditebus dengan integritas.

Hoegeng adalah cerita lama. Kita butuh Hoegeng baru untuk teladan generasi masa kini. Tanpa sistem yang mendukung, mereka akan terus terpinggirkan seperti pendahulu mereka.

Makassar, 16 Desember 2025

Related Post