Sat. Jan 31st, 2026

Dan Brown punya novel baru, judulnya The Secret of Secrets. Menarik. Tapi bukan alurnya yang mau saya bahas. Ide yang diselipkan di novel, yaitu kesadaran manusia: dari mana ia datang, dan mengapa kita selalu merasa bahwa diri kita lebih dari sekadar tubuh. Itu lebih menarik!

Ide itu meluncur lewat Katherine Solomon, seorang ilmuwan noetik yang meneliti cara kerja pikiran. Ia menolak anggapan bahwa otak menciptakan kesadaran. Baginya otak sebagai alat penerima. Kesadaran sudah ada lebih dulu, seperti sinyal radio yang memenuhi udara. Radio hanya menangkap lagu; ia tidak menciptakannya. Bila radio rusak, lagunya tetap ada. Yang hilang hanyalah kemampuan untuk menerima.

Atau yang lebih kekinian. File kita yang tersimpan di cloud. Sesunguhnya, gadget kita tidak menyimpan file itu, hanya menampilkan. Ketika gadget rusak, file tetap aman. Dengan cara itu, Katherine ingin menunjukkan bahwa kesadaran bisa berada di luar tubuh, dan tubuh hanya menunjukkan sebagian kecil dari apa yang sebenarnya ada. Dalam kerangka pikir itulah ia memperkenalkan konsep “nonlocal consciousness”, kesadaran yang tidak terikat tubuh, ruang, atau waktu.

Ia juga percaya bahwa kesadaran tidak tunduk pada urutan peristiwa yang biasa kita pahami. Ia merujuk pada eksperimen yang menunjukkan respons tubuh sebelum rangsangan muncul. Peneliti banyak yang meragukannya. Datanya tipis. Efeknya kecil. Namun bagi Katherine, itu sudah cukup untuk membuka kemungkinan bahwa pikiran manusia menjangkau lebih jauh dari yang kita kira.

Tentu saja, itu cerita bergaya Dan Brown. Menarik, provokatif, tetapi tetap fiksi. Namun justru di situ nilainya. Teori semacam ini mengajak kita memikirkan ulang bagaimana memahami diri sendiri. Kita hidup dengan kesadaran setiap hari, tetapi tidak pernah benar-benar tahu bagaimana ia bekerja.

Dari titik ini, coba kita tarik ke wilayah politik. Dampaknya bisa besar. Politik modern berdiri di atas asumsi bahwa manusia mudah diarahkan. Opini bisa dibentuk. Narasi bisa diputar. Itu sebabnya, bahkan pemilihan RT di Makassar bisa berubah menjadi panggung kecil yang penuh bisik-bisik. Semua orang ingin mempengaruhi sesuatu yang sebenarnya tidak bisa mereka sentuh: isi kepala orang lain.

Namun, jika kesadaran memang seperti bayangan Katherine, manuver politik macam itu menjadi rapuh. Pikiran yang tidak sepenuhnya bergantung pada tubuh tidak mudah kena trik retoris. Warga yang sedikit lebih peka bisa menangkap motif. Mereka bisa lebih cepat membaca arah permainan. Tidak mudah digiring, karena ruang kesadaran mereka tidak berada di tempat yang bisa dijangkau siapa pun.

Kekuasaan apa pun akan goyah berhadapan dengan orang yang tahu persis apa yang ia pikirkan.

Makassar, 3 Desember 2025

Related Post