Sat. Jan 31st, 2026

Malam itu, bendera palu arit diturunkan dari menara Kremlin. Mikhail Gorbachev, pemimpin Uni Soviet saat itu, menyampaikan pidato perpisahan di televisi. Dalam hitungan jam, Uni Soviet resmi bubar. Perang Dingin berakhir begitu saja. 

Runtuhnya Uni Soviet mengubah keseimbangan kekuatan global. Untuk beberapa waktu, dunia terpusat pada satu kekuatan tunggal. Francis Fukuyama menyebut momen itu sebagai akhir dari pertarungan ideologis besar dunia. 

Amerika Serikat keluar sebagai pemenang tunggal dan bertindak seperti polisi dunia. Washington memperluas pengaruh militer, ekonomi, dan institusional dengan keyakinan bahwa tidak ada kekuatan bisa menandinginya. Kebijakan luar negeri menjadi agresif dan sepihak. Fase ini dikenal sebagai periode unipolar, yang ditandai oleh dominasi hegemonik satu kekuatan besar saja.

Namun terbukti, keunggulan seperti itu jarang bertahan lama. Hans Morgenthau mengingatkan bahwa ketidakseimbangan kekuatan selalu memicu tekanan dan reaksi. Politik internasional selalu bergerak mencari keseimbangan, bukan stabilitas permanen.

Rusia menolak menjadi penonton. Negara ini mewarisi wilayah, senjata, dan memori kekuatan lama. Di bawah Vladimir Putin, Moskow menyusun ulang pengaruhnya. Aneksasi Krimea pada 2014 menandai penolakan terbuka terhadap hasil akhir Perang Dingin.

Invasi ke Ukraina pada 2022 memperjelas arah itu. Hubungan Rusia dan Barat berubah menjadi konfrontasi terbuka. Keputusan menyerang Ukraina tetap pilihan politik Kremlin, bukan akibat sejarah.

Tiongkok memilih jalur berbeda. Beijing membaca runtuhnya Uni Soviet sebagai peringatan tentang rapuhnya legitimasi politik, dan membaca dominasi Amerika sebagai contoh batas kekuatan militer. Pengaruh dibangun lewat ekonomi, teknologi, dan kendali rantai pasok.

Di Eropa, negara-negara bekas blok Timur bergabung dengan NATO demi rasa aman. Di Moskow, ekspansi ini dibaca sebagai ancaman. Perbedaan persepsi tersebut menumpuk dan akhirnya meledak di Ukraina.

Tiga puluh tahun setelah 26 Desember 1991, hegemoni tunggal perlahan memudar. Dunia bergerak menuju keseimbangan multipolar yang cair dan tanpa pola tetap. Persaingan antar kekuatan besar kembali mendominasi dinamika hubungan internasional. 

Dunia pasca-Uni Soviet tidak bisa dinilai hitam-putih antara kemenangan dan kegagalan. Barat terlalu yakin pada dominasinya. Rusia tidak pernah berdamai dengan kekalahannya. Tiongkok belajar dari keduanya dan menempuh jalannya sendiri.

Kekuasaan bergeser. Cara berpikirnya tetap lama.

Makassar, 26 Desember 2025

Related Post